Minggu, 02 Juni 2013

With You.... Forever


Just Dreaming...
                WITH YOU... FOREVER
Cast       : Clarissa Victoris Wilson, Austin James Bulter,
                   Bella Lylian Bulter, Mrs. Jessica Bulter
Author : Nor Aspia Achmad
Genre   : Sad Romance
Hari ini dia terlambat lagi, entah sudah berapa kali dalam dua bulan ini dia tidak pernah tepat waktu untuk menepati janjinya bertemu dengan ku. Ini kedelapan belas kalinya aku melirik jam tangan yang ku pakai, sudah 2 jam aku menunggu didanau ini tapi dia tidak kunjung datang. Aku hanya bisa menatap lurus kedepan, menatap danau yang ada dihadapan ku, danau yang begitu tenang. Sesekali aku melemparkan batu ke danau itu, ‘lima belas menit lagi..’ lirih ku dalam hati. Ya, lima belas menit lagi jika dia tidak datang maka aku akan pulang. Aku benci jika harus menunggu seperti ini, tapi aku tidak bisa mengelaknya aku harus tetap disini untuk menunggu... menunggu seseorang yang ku cintai datang dengan senyuman di bibirnya.
“Clarissa...” seseorang memanggil nama ku,dari suaranya dan dari caranya memanggil aku tau siapa itu. Aku berbalik dan melihat kearahnya,dia kemudian menghampiri ku dan dia kini berada dihadapan ku, aku hanya mendengus kesal setelah memandang wajahnya.
“maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk terlambat, please Cissa..”. dia menggenggam kedua tangan ku dan matanya menatap tajam kearah ku, inilah yang selalu membuat ku tak bisa berkutik. Tatapan matanya yang damai mampu meredamkan amarah ku kepadanya.
“berhenti menatapku, kau tau aku tidak akan bisa marah pada mu jika kau selalu menatap ku seperti itu..”. kulihat dia hanya menunduk setelah mendengar ucapan ku, aku melepaskan genggaman tangannya. Aku berjalan menuju sebuah kursi dan kemudian duduk dikursi tersebut, dia pun mengikuti ku dan ikut duduk disamping ku. Kami hanya diam, entah apa yang sedang dia fikirkannya. Tapi aku fikir dia menyadari kesalahannya.
“kali ini apa alasan mu ? kau tau 2 jam 15 menit aku menunggu mu disini, dan selalu seperti itu..selalu 2 jam 15 menit. Tidak bisakah kau tepat waktu Austin ?”. aku memecah keheningan dengan bertanya kepdanya. Aku menatap wajahnya yang memandang lurus kedepan, tidak ada ekspresi dari wajahnya. Tapi, dia terlihat pucat bahkan sangat pucat. Tidak biasanya dia seperti ini. Dia kemudian menatap ku dan tersenyum. Aku kesal padanya, karena bukannya menjawab pertanyaan ku dia malah tersenyum seperti itu, aku kemudian mendengus kesal dan bertanya lagi kepadanya. “kenapa wajah mu pucat seperti itu ? apa kau sakit ? sampai kapan kau seperti ini ? kita sudah enam bulan menjalin hubungan,tetapi kenapa kau tidak pernah mau membagi cerita mu pada ku ? kenapa kau tidak pernah jujur kepada ku ?”. kali ini nada bicara ku, ku naikkan satu oktav lebih tinggi, karena aku sudah tidak bisa memendam perasaan kesal seperti ini. Bagaimana tidak, sudah enam bulan kami menjalin hubungan tetapi dia tidak pernah mau berterus terang tentang kehidupannya, dan aku sungguh merasa seperti kekasih yang tidak dianggap olehnya.
“kau tau, ada sesuatu yang ingin ku katakan kepada mu..”. dia menarik nafasnya secara perlahan, dan kali ini dia juga tidak menjawab pertanyaan ku. Untuk itulah aku benci jika harus bertanya sesuatu tentangnya, karena dia terkadang tidak akan menjawab pertanyaan dari ku.
“katakan..”ucap ku kepadanya.
“aku rasa hubungan kita cukup sampai disini, aku bukanlah lelaki baik yang bisa membahagiakan mu. Aku hanya bisa membuat mu selalu kesal dan marah. Ku mohon Cissa, lebih baik kita akhiri hubungan ini. Dan aku yakin kau akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari ku..”. aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang diucapkannya, rasanya aku ingin segera mengakhiri hidup ku saat ini juga. Perkataannya bagaikan petir yang menyambar sebuah pohon hingga membuat pohon itu retak menjadi dua.
Bagaimana bisa orang yang sangat kucintai berkata seperti itu kepada ku, dia sungguh telah membuat luka dalam dihati ku. Kurasakan butiran bening membasahi pipi ku, “katakan kau hanya bercanda..!! ini tidak lucu Austin... bagaimana bisa kau berkata seperti itu ?”. ku lihat dia hanya menunduk, “tatap aku Austin !! aku tau kau mencintai ku dan akan selamanya mencintai ku..!!”. sungguh aku tidak bisa membendung rasa sakit yang ada dihati ku.
“aku tidak bercanda, aku serius. Maafkan aku Cissa, tetapi aku sudah tidak mencintai mu lagi. Aku harap kau membenci ku dan segera melupakan ku, carilah lelaki lain yang bisa membuat mu bahagia Cissa. Ini keputusan ku, maafkan aku Cissa..”. kali ini dia menatap ku, aku melihat kedalam matanya dan aku menemukan kebohongan yang sangat besar disana. Dia membohongi ku dengan perkataanya dan aku tau itu.
“kau berbohong kepada ku, mata mu tidak bisa menyembunyikannya Austin !! kau masih mencintai ku, kau bilang ingin selalu bersama ku dan kau bilang kau akan menjaga ku.. kau.....”. belum sempat aku melanjutkan perkataan ku, Austin berteriak sehingga aku tersentak dan butiran air ini semakin deras mengalir di pipi ku.
“cukup Cissa !!!!. lupakan !! lupakan semua yang telah ku katakn pada mu dulu.. itu semua hanya kebohongan. Maaf Cissa, tapi kurasa kau harus menerimanya..”. kini dia telah berdiri dan hendak beranjak pergi. Tuhan, apa dosa ku kepada mu ? sehingga kau ambil dan menjauhkan orang-orang yang ku cintai dari hidup ku ?. Aku hanya bisa menangis melihatnya pergi meninggalkan ku. Ku tatap dia yang kini pergi meninggalkan ku. Dia semakin menjauh, jauh, dan terus menjauh.
Aku pun bangkit, aku berlari mengejarnya aku tidak ingin dia pergi. Dia harus tau bahwa aku sangat mencintainya. Dia tidak boleh pergi.
Ku lihat dia berjalan menuju mobil sport hitam miliknya, aku terus mengejarnya. Sampai akhirnya aku menemukan sosok perempuan yang berdiri didepan mobilnya, dia berbalik melihat ke arah aku yang mengejarnya. Aku tidak perduli dia memandang ku seperti apa, tapi saat ini mata ku hanya fokus menatap sosok wanita itu. Aku tidak bisa begerak saat ini, kurasakan tubuh ku membeku seketika. Perlahan kutatap Austin yang sedari tadi memandangi ku dengan perasaan benci.
“siapa dia ?”tanya ku padanya. Kali ini suara ku bergetar, ku lihat wanita itu menatap bingung ke arah kami.
“Bella, dia wanita yang mampu membuat ku berpaling dari wanita seperti mu. Aku sangat mencintainya, bahkan begitu sangat menggilainya. Dan dia yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku kelak. Maafkan aku Cissa aku harus pergi..”. kali ini kurasakan sesak didada ku, aku tidak bisa menghirup udara disekitarku. Aku pun duduk terjatuh melihat perlahan mobil itu hilang pergi membawa cinta ku yang telah membuat luka besar di dalam hati ini.
Tuhan ku mohon ambil nyawa ku saat ini juga, aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya. Langit seketika runtuh menimpa tubuh ini saat dia pergi meninggalkan ku Tuhan, aku sebatang kara di dunia ini, siapa lagi yang akan perduli kepada ku jika dia pergi. Tuhan bantu aku...
**********
1 bulan kemudian..
Aku benar-benar merasa tidak berguna hidup di dunia ini, akhir-akhir ini aku jarang makan. Tubuh ku yang kurus terlihat semakin kurus, rambut ku tidak terurus, dan mata ku bengkak karena setiap hari menangis. Aku berjalan perlahan menuju rumah, waktu masih menunjukan pukul 10.30am tapi aku terpaksa pulang dari tempat kerjaku. Aku di pecat dari pekerjaan ku, karena mereka tidak ingin mempunyai pekerja yang kacau seperti ku. Benar kata mereka, aku sangat kacau dan ini semua karena Austin, aku terlalu bodoh hingga tidak bisa menerima kenyataan dia meninggalkan ku dengan rasa sakit yang teramat dalam dan semua janji yang penuh dengan kebohongan. Kubiarkan kaki melangkah menuju tempat yang di inginkannya, sampai akhirnya kini aku berdiri di atas sebuah jembatan.
Kulihat air yang mengalir di bawah jembatan itu, mengalir tanpa beban berbeda dengan ku. Ku naiki pembatas jembatan tersebut, tak ku hiraukan kendaraan lalu lalang yang lewat. Akupun berteriak sekencang-kencangnya. “TUHAN !! APA INI ADIL MENURUT MU ?? AKU LELAH TUHAN !! AKU LELAH DENGAN SEMUA JALAN MU, AKU MENYERAH !! KINI BENTANGKAN JALAN MU AGAR AKU BISA MENYUSUL MU, MENEMUI KEDUA ORANG TUA KU DAN DAMAI BERSAMA MEREKA..!!”. aku tidak perduli jika dianggap sebagai orang gila. Aku memang gila sekarang, aku menangis sejadi-jadinya. Sudah kuputuskan, aku akan menyusul kedua orang tua ku disurga, aku tersenyum saat melihat bayangan wajah mereka di air, “mom..dad.. tunggu aku..”. lirih ku pelan, kututup perlahan mata ku. Tapi saat aku hendak melompat, seseorang menarik ku hingga aku terjatuh ke jalanan bukan ke air seperti yang ku inginkan.
“Cissa !!.apa kau gila !!”. aku menatap wajah perempuan yang tadi menarik ku, tapi sungguh kini kebencian ku memuncak ketika menatapnya. Wanita itu Bella, wanita yang telah merebut Austin dari ku. Dia memeluk ku tapi aku mendorong tubuhnya hingga terjatuh.
“aku memang gila, bahkan sangat gila. Untuk apa kau menarik ku ? kau hanya akan membuat luka hati ku semakin besar !!. aku tidak butuh diselamatkan oleh mu, pergi kau !!”. ku lihat dia menangis menatap ku,tetapi aku tidak perduli. Aku tetap ingin mengakhiri hidup ku, dan kini aku menaiki pembatas jembatan itu lagi. Saat aku hemdak melompat dia berteriak kepada ku..
“STOP CISSA !! hentikan, maafkan aku. Kau memang tidak butuh diselamatkan oleh ku, tapi Austin dia membutuhkan mu untuk menyelamatkannya nyawanya. Aku bukan wanita yang dicintainya, hanya kau... yaa, hanya kau Cissa..”. jantung ku berhenti berdetak saat mendengar apa yang dia ucapkan, aku turun lalu menghampirinya. “katakan kepada ku.. apa maksud semua ini ?”. kini ku lihat dia lah yang sangat kacau, dia menangis. Dia menatap kearah ku.
“aku hanya teman sekaligus dokter yang merawat Austin, selama ini dia mengidap penyakit leukimia Cissa, dan sekarang dia kritis sambil terus menyebut nama mu. Dia tidak ingin memberitahu kepada mu karena dia tidak ingin melihat mu merasa begitu terbebani kau sudah cukup menderita setelah kepergian orang tua mu dan dia tidak ingin kau tambah menderita jika kau tau dia mengidap penyakit itu. Hingga dia memutuskan untuk pergi meninggalkan mu dan membuat mu benci kepadanya, berharap kau bisa melupakannya. Tapi dia tidak benar-benar meninggalkan mu Cissa, dia selalu berada didekat mu dia selalu memantau mu dan menjaga mu dari jauh,kau di awasi olehnya. Dia berharap kau akan menemukan penggantinya, tapi nyatanya tidak kau malah semakin kacau, dia meresa sangat bersalah kepada mu hingga akhirnya keadaanya pun semakin memburuk..”. aku benar-benar merasa kosong saat ini, aku hanya bisa menangis, seluruh tubuh ku lemas tidak berdaya. Inikah jawaban dai semua pertanyaan ku Tuhan ?. aku tidak ingin kembali kehilangan orang yang kucintai, aku harus menemuinya.
“Bella.. maukah kau mengantar ku menemuinya ?”. Bella mengangguk, kemudian membawa ku untuk pergi menemui Austin.
******
Kini aku berlari menelusuri koridor rumah sakit ini, tak ku perdulikan Bella yang terlihat lelah mengikuti ku. Hingga akhirnya aku melihat wanita separuh baya yang duduk didepan sebuah ruangan. Aku menghampirinya, dia terlihat sangat terkejut dengan kedatangan ku, dia berdiri kemudian memeluk ku sambil terus menangis.
“Cissa.. dia menunggumu.. dia sangat mencintai mu..”. wanita separuh baya itu adlah Mrs.Jessica, ibu dari Austin. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan membukakan pintu ruangan Austin.
Aku kemudian masuk sendiri, ku lihat Austin yang tersenyum melihat kedatangan ku meskipun dengan puluhan selang yang menancap ditubuhnya. Aku hanya bisa menangis menghampirinya, aku kemudian memeluk Austin dan duduk disampingnya. Tangan kanannya terus menggenggam tangan ku, aku terus menangis memandangnya tetapi dia terus tersenyum melihat ku. Tangan kirinya mengusap air mata yang terus mengalir di pipi ku.
“hey, berhentilah menangis kau sangat jelek jika menangis... tersenyumlah, kau curang... aku tersenyum saat melihat mu, tapi kau malah menangis melihat ku..”. aku pun menuruti keinginannya, aku tersenyum kepadanya. Tapi sungguh saat ini aku tidak mampu berkata apa-apa. Aku terus tersenyum kepadanya tapi, air mata ini masih saja mengalir meskipun sudah ku tahan  untuk tidak keluar. Ku tatap mata hazelnya yang indah itu, ku dengar dia mengeluarkan kata demi kata dari bibirnya yang pucat itu.
“maafkan aku Cissa,emm... kau tau ? sangat sulit jika seorang pasien ingin keluar dari rumah sakit ini itulah sebabnya aku selau terlambat untuk menemui mu, tapi untungnya ada dokter Bella yang selalu membantu ku hingga aku bisa pergi menemuimu.. hmm, sekarang apa yang ingin kau tanyakan ? aku akan menjawabnya Cissa”. aku benar-benar tidak tau harus berkata apa, kali ini aku tidak dapat menahan air mata, aku menangis tetapi masih tersenyum. Tapi ku coba untuk bicara saat ini, meskipun bibir ku berggetar untuk bicara.
“kau tidak perlu menjawab semuanya, aku sudah tau jawabannya. Tidak perduli selama apa kau terlambat aku akan setia menunggu mu,tapi ku mohon kau harus sembuh Austin. Dan behentilah meminta maaf, kau tidak pernah salah. Aku berjanji akan selalu bersama mu, aku mencintai mu. Ku mohon jangan tinggalkan aku, jika kau pergi siapa yang akan peduli kepada ku ? ku mohon Austin, sembuhlah. Aku mencintai mu.”. aku memeluk tubuhnya yang terbaring lemah, kuraskan tangannya mengusap rambut ku dengan lembut, lalu kemudian dia mencium kening ku. Aku terus menangis dalam dekapannya.
“aku mencintai mu Cissa, bahkan sangat mencintai mu. I love you sweet heart..”. dia mencium kening ku kembali, tapi kurasakan tangannya melemah saat memeluk ku. Tuhan jangan kau ambil dia dari ku sekarang, aku mohon. Perlahan aku melepaskan pelukan dan menatapnya. Kini dia terpejam untuk selamanya, aku hanya bisa menagis kemudian mencium kening dan mengusap pipinya yang halus tanpa nyawa tersebut. Kemudian berbisik ditelinganya.
“sweet dream honey, tidur yang nyenyak. Aku akan bersama mu, tunggu aku”. Aku menatap pilu pada jasad orang yang kucintai, kemudian ku ambil sebuah gunting yang ada didalam tas ku. Kusayatkan gunting tersebut pada tangan kiri ku, kini cairan merah keluar dengan derasnya dari tangan ku. Ku hampiri tubuhnya yang terbaring kaku, dan mengatakan sesuatu kepadanya sebelum semua terasa gelap.
“I Love You...”.
~END~
“Tidak ada semua cerita yang selau berakhir bahagia”
~Yaya~

With You.... Forever


Just Dreaming...
                WITH YOU... FOREVER
Cast       : Clarissa Victoris Wilson, Austin James Bulter,
                   Bella Lylian Bulter, Mrs. Jessica Bulter
Author : Nor Aspia Achmad
Genre   : Sad Romance
Hari ini dia terlambat lagi, entah sudah berapa kali dalam dua bulan ini dia tidak pernah tepat waktu untuk menepati janjinya bertemu dengan ku. Ini kedelapan belas kalinya aku melirik jam tangan yang ku pakai, sudah 2 jam aku menunggu didanau ini tapi dia tidak kunjung datang. Aku hanya bisa menatap lurus kedepan, menatap danau yang ada dihadapan ku, danau yang begitu tenang. Sesekali aku melemparkan batu ke danau itu, ‘lima belas menit lagi..’ lirih ku dalam hati. Ya, lima belas menit lagi jika dia tidak datang maka aku akan pulang. Aku benci jika harus menunggu seperti ini, tapi aku tidak bisa mengelaknya aku harus tetap disini untuk menunggu... menunggu seseorang yang ku cintai datang dengan senyuman di bibirnya.
“Clarissa...” seseorang memanggil nama ku,dari suaranya dan dari caranya memanggil aku tau siapa itu. Aku berbalik dan melihat kearahnya,dia kemudian menghampiri ku dan dia kini berada dihadapan ku, aku hanya mendengus kesal setelah memandang wajahnya.
“maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk terlambat, please Cissa..”. dia menggenggam kedua tangan ku dan matanya menatap tajam kearah ku, inilah yang selalu membuat ku tak bisa berkutik. Tatapan matanya yang damai mampu meredamkan amarah ku kepadanya.
“berhenti menatapku, kau tau aku tidak akan bisa marah pada mu jika kau selalu menatap ku seperti itu..”. kulihat dia hanya menunduk setelah mendengar ucapan ku, aku melepaskan genggaman tangannya. Aku berjalan menuju sebuah kursi dan kemudian duduk dikursi tersebut, dia pun mengikuti ku dan ikut duduk disamping ku. Kami hanya diam, entah apa yang sedang dia fikirkannya. Tapi aku fikir dia menyadari kesalahannya.
“kali ini apa alasan mu ? kau tau 2 jam 15 menit aku menunggu mu disini, dan selalu seperti itu..selalu 2 jam 15 menit. Tidak bisakah kau tepat waktu Austin ?”. aku memecah keheningan dengan bertanya kepdanya. Aku menatap wajahnya yang memandang lurus kedepan, tidak ada ekspresi dari wajahnya. Tapi, dia terlihat pucat bahkan sangat pucat. Tidak biasanya dia seperti ini. Dia kemudian menatap ku dan tersenyum. Aku kesal padanya, karena bukannya menjawab pertanyaan ku dia malah tersenyum seperti itu, aku kemudian mendengus kesal dan bertanya lagi kepadanya. “kenapa wajah mu pucat seperti itu ? apa kau sakit ? sampai kapan kau seperti ini ? kita sudah enam bulan menjalin hubungan,tetapi kenapa kau tidak pernah mau membagi cerita mu pada ku ? kenapa kau tidak pernah jujur kepada ku ?”. kali ini nada bicara ku, ku naikkan satu oktav lebih tinggi, karena aku sudah tidak bisa memendam perasaan kesal seperti ini. Bagaimana tidak, sudah enam bulan kami menjalin hubungan tetapi dia tidak pernah mau berterus terang tentang kehidupannya, dan aku sungguh merasa seperti kekasih yang tidak dianggap olehnya.
“kau tau, ada sesuatu yang ingin ku katakan kepada mu..”. dia menarik nafasnya secara perlahan, dan kali ini dia juga tidak menjawab pertanyaan ku. Untuk itulah aku benci jika harus bertanya sesuatu tentangnya, karena dia terkadang tidak akan menjawab pertanyaan dari ku.
“katakan..”ucap ku kepadanya.
“aku rasa hubungan kita cukup sampai disini, aku bukanlah lelaki baik yang bisa membahagiakan mu. Aku hanya bisa membuat mu selalu kesal dan marah. Ku mohon Cissa, lebih baik kita akhiri hubungan ini. Dan aku yakin kau akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari ku..”. aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang diucapkannya, rasanya aku ingin segera mengakhiri hidup ku saat ini juga. Perkataannya bagaikan petir yang menyambar sebuah pohon hingga membuat pohon itu retak menjadi dua.
Bagaimana bisa orang yang sangat kucintai berkata seperti itu kepada ku, dia sungguh telah membuat luka dalam dihati ku. Kurasakan butiran bening membasahi pipi ku, “katakan kau hanya bercanda..!! ini tidak lucu Austin... bagaimana bisa kau berkata seperti itu ?”. ku lihat dia hanya menunduk, “tatap aku Austin !! aku tau kau mencintai ku dan akan selamanya mencintai ku..!!”. sungguh aku tidak bisa membendung rasa sakit yang ada dihati ku.
“aku tidak bercanda, aku serius. Maafkan aku Cissa, tetapi aku sudah tidak mencintai mu lagi. Aku harap kau membenci ku dan segera melupakan ku, carilah lelaki lain yang bisa membuat mu bahagia Cissa. Ini keputusan ku, maafkan aku Cissa..”. kali ini dia menatap ku, aku melihat kedalam matanya dan aku menemukan kebohongan yang sangat besar disana. Dia membohongi ku dengan perkataanya dan aku tau itu.
“kau berbohong kepada ku, mata mu tidak bisa menyembunyikannya Austin !! kau masih mencintai ku, kau bilang ingin selalu bersama ku dan kau bilang kau akan menjaga ku.. kau.....”. belum sempat aku melanjutkan perkataan ku, Austin berteriak sehingga aku tersentak dan butiran air ini semakin deras mengalir di pipi ku.
“cukup Cissa !!!!. lupakan !! lupakan semua yang telah ku katakn pada mu dulu.. itu semua hanya kebohongan. Maaf Cissa, tapi kurasa kau harus menerimanya..”. kini dia telah berdiri dan hendak beranjak pergi. Tuhan, apa dosa ku kepada mu ? sehingga kau ambil dan menjauhkan orang-orang yang ku cintai dari hidup ku ?. Aku hanya bisa menangis melihatnya pergi meninggalkan ku. Ku tatap dia yang kini pergi meninggalkan ku. Dia semakin menjauh, jauh, dan terus menjauh.
Aku pun bangkit, aku berlari mengejarnya aku tidak ingin dia pergi. Dia harus tau bahwa aku sangat mencintainya. Dia tidak boleh pergi.
Ku lihat dia berjalan menuju mobil sport hitam miliknya, aku terus mengejarnya. Sampai akhirnya aku menemukan sosok perempuan yang berdiri didepan mobilnya, dia berbalik melihat ke arah aku yang mengejarnya. Aku tidak perduli dia memandang ku seperti apa, tapi saat ini mata ku hanya fokus menatap sosok wanita itu. Aku tidak bisa begerak saat ini, kurasakan tubuh ku membeku seketika. Perlahan kutatap Austin yang sedari tadi memandangi ku dengan perasaan benci.
“siapa dia ?”tanya ku padanya. Kali ini suara ku bergetar, ku lihat wanita itu menatap bingung ke arah kami.
“Bella, dia wanita yang mampu membuat ku berpaling dari wanita seperti mu. Aku sangat mencintainya, bahkan begitu sangat menggilainya. Dan dia yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku kelak. Maafkan aku Cissa aku harus pergi..”. kali ini kurasakan sesak didada ku, aku tidak bisa menghirup udara disekitarku. Aku pun duduk terjatuh melihat perlahan mobil itu hilang pergi membawa cinta ku yang telah membuat luka besar di dalam hati ini.
Tuhan ku mohon ambil nyawa ku saat ini juga, aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya. Langit seketika runtuh menimpa tubuh ini saat dia pergi meninggalkan ku Tuhan, aku sebatang kara di dunia ini, siapa lagi yang akan perduli kepada ku jika dia pergi. Tuhan bantu aku...
**********
1 bulan kemudian..
Aku benar-benar merasa tidak berguna hidup di dunia ini, akhir-akhir ini aku jarang makan. Tubuh ku yang kurus terlihat semakin kurus, rambut ku tidak terurus, dan mata ku bengkak karena setiap hari menangis. Aku berjalan perlahan menuju rumah, waktu masih menunjukan pukul 10.30am tapi aku terpaksa pulang dari tempat kerjaku. Aku di pecat dari pekerjaan ku, karena mereka tidak ingin mempunyai pekerja yang kacau seperti ku. Benar kata mereka, aku sangat kacau dan ini semua karena Austin, aku terlalu bodoh hingga tidak bisa menerima kenyataan dia meninggalkan ku dengan rasa sakit yang teramat dalam dan semua janji yang penuh dengan kebohongan. Kubiarkan kaki melangkah menuju tempat yang di inginkannya, sampai akhirnya kini aku berdiri di atas sebuah jembatan.
Kulihat air yang mengalir di bawah jembatan itu, mengalir tanpa beban berbeda dengan ku. Ku naiki pembatas jembatan tersebut, tak ku hiraukan kendaraan lalu lalang yang lewat. Akupun berteriak sekencang-kencangnya. “TUHAN !! APA INI ADIL MENURUT MU ?? AKU LELAH TUHAN !! AKU LELAH DENGAN SEMUA JALAN MU, AKU MENYERAH !! KINI BENTANGKAN JALAN MU AGAR AKU BISA MENYUSUL MU, MENEMUI KEDUA ORANG TUA KU DAN DAMAI BERSAMA MEREKA..!!”. aku tidak perduli jika dianggap sebagai orang gila. Aku memang gila sekarang, aku menangis sejadi-jadinya. Sudah kuputuskan, aku akan menyusul kedua orang tua ku disurga, aku tersenyum saat melihat bayangan wajah mereka di air, “mom..dad.. tunggu aku..”. lirih ku pelan, kututup perlahan mata ku. Tapi saat aku hendak melompat, seseorang menarik ku hingga aku terjatuh ke jalanan bukan ke air seperti yang ku inginkan.
“Cissa !!.apa kau gila !!”. aku menatap wajah perempuan yang tadi menarik ku, tapi sungguh kini kebencian ku memuncak ketika menatapnya. Wanita itu Bella, wanita yang telah merebut Austin dari ku. Dia memeluk ku tapi aku mendorong tubuhnya hingga terjatuh.
“aku memang gila, bahkan sangat gila. Untuk apa kau menarik ku ? kau hanya akan membuat luka hati ku semakin besar !!. aku tidak butuh diselamatkan oleh mu, pergi kau !!”. ku lihat dia menangis menatap ku,tetapi aku tidak perduli. Aku tetap ingin mengakhiri hidup ku, dan kini aku menaiki pembatas jembatan itu lagi. Saat aku hemdak melompat dia berteriak kepada ku..
“STOP CISSA !! hentikan, maafkan aku. Kau memang tidak butuh diselamatkan oleh ku, tapi Austin dia membutuhkan mu untuk menyelamatkannya nyawanya. Aku bukan wanita yang dicintainya, hanya kau... yaa, hanya kau Cissa..”. jantung ku berhenti berdetak saat mendengar apa yang dia ucapkan, aku turun lalu menghampirinya. “katakan kepada ku.. apa maksud semua ini ?”. kini ku lihat dia lah yang sangat kacau, dia menangis. Dia menatap kearah ku.
“aku hanya teman sekaligus dokter yang merawat Austin, selama ini dia mengidap penyakit leukimia Cissa, dan sekarang dia kritis sambil terus menyebut nama mu. Dia tidak ingin memberitahu kepada mu karena dia tidak ingin melihat mu merasa begitu terbebani kau sudah cukup menderita setelah kepergian orang tua mu dan dia tidak ingin kau tambah menderita jika kau tau dia mengidap penyakit itu. Hingga dia memutuskan untuk pergi meninggalkan mu dan membuat mu benci kepadanya, berharap kau bisa melupakannya. Tapi dia tidak benar-benar meninggalkan mu Cissa, dia selalu berada didekat mu dia selalu memantau mu dan menjaga mu dari jauh,kau di awasi olehnya. Dia berharap kau akan menemukan penggantinya, tapi nyatanya tidak kau malah semakin kacau, dia meresa sangat bersalah kepada mu hingga akhirnya keadaanya pun semakin memburuk..”. aku benar-benar merasa kosong saat ini, aku hanya bisa menangis, seluruh tubuh ku lemas tidak berdaya. Inikah jawaban dai semua pertanyaan ku Tuhan ?. aku tidak ingin kembali kehilangan orang yang kucintai, aku harus menemuinya.
“Bella.. maukah kau mengantar ku menemuinya ?”. Bella mengangguk, kemudian membawa ku untuk pergi menemui Austin.
******
Kini aku berlari menelusuri koridor rumah sakit ini, tak ku perdulikan Bella yang terlihat lelah mengikuti ku. Hingga akhirnya aku melihat wanita separuh baya yang duduk didepan sebuah ruangan. Aku menghampirinya, dia terlihat sangat terkejut dengan kedatangan ku, dia berdiri kemudian memeluk ku sambil terus menangis.
“Cissa.. dia menunggumu.. dia sangat mencintai mu..”. wanita separuh baya itu adlah Mrs.Jessica, ibu dari Austin. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan membukakan pintu ruangan Austin.
Aku kemudian masuk sendiri, ku lihat Austin yang tersenyum melihat kedatangan ku meskipun dengan puluhan selang yang menancap ditubuhnya. Aku hanya bisa menangis menghampirinya, aku kemudian memeluk Austin dan duduk disampingnya. Tangan kanannya terus menggenggam tangan ku, aku terus menangis memandangnya tetapi dia terus tersenyum melihat ku. Tangan kirinya mengusap air mata yang terus mengalir di pipi ku.
“hey, berhentilah menangis kau sangat jelek jika menangis... tersenyumlah, kau curang... aku tersenyum saat melihat mu, tapi kau malah menangis melihat ku..”. aku pun menuruti keinginannya, aku tersenyum kepadanya. Tapi sungguh saat ini aku tidak mampu berkata apa-apa. Aku terus tersenyum kepadanya tapi, air mata ini masih saja mengalir meskipun sudah ku tahan  untuk tidak keluar. Ku tatap mata hazelnya yang indah itu, ku dengar dia mengeluarkan kata demi kata dari bibirnya yang pucat itu.
“maafkan aku Cissa,emm... kau tau ? sangat sulit jika seorang pasien ingin keluar dari rumah sakit ini itulah sebabnya aku selau terlambat untuk menemui mu, tapi untungnya ada dokter Bella yang selalu membantu ku hingga aku bisa pergi menemuimu.. hmm, sekarang apa yang ingin kau tanyakan ? aku akan menjawabnya Cissa”. aku benar-benar tidak tau harus berkata apa, kali ini aku tidak dapat menahan air mata, aku menangis tetapi masih tersenyum. Tapi ku coba untuk bicara saat ini, meskipun bibir ku berggetar untuk bicara.
“kau tidak perlu menjawab semuanya, aku sudah tau jawabannya. Tidak perduli selama apa kau terlambat aku akan setia menunggu mu,tapi ku mohon kau harus sembuh Austin. Dan behentilah meminta maaf, kau tidak pernah salah. Aku berjanji akan selalu bersama mu, aku mencintai mu. Ku mohon jangan tinggalkan aku, jika kau pergi siapa yang akan peduli kepada ku ? ku mohon Austin, sembuhlah. Aku mencintai mu.”. aku memeluk tubuhnya yang terbaring lemah, kuraskan tangannya mengusap rambut ku dengan lembut, lalu kemudian dia mencium kening ku. Aku terus menangis dalam dekapannya.
“aku mencintai mu Cissa, bahkan sangat mencintai mu. I love you sweet heart..”. dia mencium kening ku kembali, tapi kurasakan tangannya melemah saat memeluk ku. Tuhan jangan kau ambil dia dari ku sekarang, aku mohon. Perlahan aku melepaskan pelukan dan menatapnya. Kini dia terpejam untuk selamanya, aku hanya bisa menagis kemudian mencium kening dan mengusap pipinya yang halus tanpa nyawa tersebut. Kemudian berbisik ditelinganya.
“sweet dream honey, tidur yang nyenyak. Aku akan bersama mu, tunggu aku”. Aku menatap pilu pada jasad orang yang kucintai, kemudian ku ambil sebuah gunting yang ada didalam tas ku. Kusayatkan gunting tersebut pada tangan kiri ku, kini cairan merah keluar dengan derasnya dari tangan ku. Ku hampiri tubuhnya yang terbaring kaku, dan mengatakan sesuatu kepadanya sebelum semua terasa gelap.
“I Love You...”.
~END~
“Tidak ada semua cerita yang selau berakhir bahagia”
~Yaya~