Minggu, 16 Juni 2013

Bye Mantan... Welcome Pacar Baru !


Semilir angin menerbangkan rambut ku untuk yang kesekian kalinya, sungguh nyaman jika berada disini di bawah pohon sebuah taman yang terletak di belakang sekolah ku. Di tempat ini juga pertama kalinya aku bertemu dengan seorang wanita yang sekarang menjadi sahabat ku, dia adalah Ida. Wanita yang berhasil mencuri hati ku selama ini, tapi bodohnya aku hingga saat ini tidak mampu untuk mengatakannya.
Nama ku Dino, dan sekarang aku sudah duduk di kelas XII SMA negeri di Djakarta. Aku mempunyai mata hazel cokelat, rambut yang sedikit ikal dan tinggi ku sekitar 170cm. Menurut semua teman-teman ku, aku cukup perfect. Tapi, aku tetap merasa biasa saja. Banyak wanita yang mendekati ku, meskipun begitu aku tidak tertarik dengan mereka semua karena aku hanya tertarik pada satu wanita yaitu Ida.
“hei.. ngapain ? melamun aja... mau roti ?.” lamunan ku langsung buyar seketika karena mendengar suara lembut seorang wanita yang sangat ku kenal, suara seorang wanita yang mampu membuat jantung dan nafas ku tercekat. “oo, hai  Da... aku hanya duduk bersantai saja disini..”. ucap ku kepadanya. “kau tidak ingin roti ?.” tanyanya lagi sambil mengulurkan tangannya yang memegang roti itu kepada ku. aku hanya tersenyum dan menggeleng kepadanya. “apa kau masih ingat waktu pertama kali kita bertemu disini ?.” tanya ku kepadanya,dia hanya terkekeh saat mendengar pertanyaan ku, mungkin dia mengingat kejadian itu, kejadian dimana saat kita pertama kali bertemu.
“tentu saja ingat..”. ucapnya sambil memakan sedikit demi sedikit yang ada di tangannya. “sekarang apa kau masih takut ?.”. tanya ku kembali kepadanya, terlihat di sangat terkejut karena pertanyaan ku. dia menantap ku tajam seakan tidak mengerti apa yang sedang aku tanyakan. “dulu, saat waktu pertama kali kita bersekolah disini kau menangis di tempat ini, dan aku tidak sengaja melihat mu menangis, saat ku tanyakan kenapa kau menangis kau dengan polosnya menjawab kalau kau takut karena di tembak salah satu senior terkeren di sekolah ini..”. jelas ku kepadanya sembari mengingat masa-masa pertama bertemu dengannya. Dia kemudian mencubit ku manja sambil memanyunkan bibirnya seakan tidak ingin aku mengungkit kejadian itu lagi, tapi aku hanya tertawa dengan tingkah lucunya itu. “iyaaa, dan kau juga dengan polosnya mentertawakan ku, karena aku ketakutan di tembak oleh senior itu, bukannya menanyakan kenapa aku jadi takut, kau malah tertawa dan membuat ku semakin ingin segera mengubur mu hidup-hidup.” Jelas Ida kepada ku yang membuat aku semakin tertawa terbahak-bahak.
“hahahahaha, maafkan aku habisnya kau sangat lucu dan begitu polos.. o’ya, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi ? apa kau masih takut untuk menjalani hubungan dengan seorang pria ?.”. kulihat mata sayunya itu memandang lurus kedepan desahan nafas teraturnya jelas terdengar di telinga ku, dia kemudian menatap murung ke arah ku. “entahlah, kadang kala aku takut kejadian yang sama akan menimpa ku seperti kejadian yang di alami ibu ku... di campakkan oleh ayah ku, aku takut itu terjadi dan aku tidak mau itu terjadi..”. aku menyunggingkan senyum paksaan kepadanya, sebenarnya aku cukup kecewa dengan jawaban Ida, karena secara garis besar jika aku mengungkapkan perasaan ku kepadanya dia pasti akan menolak ku. aku menundukan kepala ku, dan kini suasana hening menyelimuti kami. “tapiii...”. suara Ida memecahkan keheningan. “tapi, disisi lain aku juga ingin merasakan cinta.. emm, maksud ku aku sudah merasakannnya, masalahnya adalah aku tidak tau cara menjalaninya aku takut dia akan mencapakkan ku aku takut jika dia tidak mempunyai perasaan seperti yang ku rasakan...”. kali ini senyuman besar terpampang diwajah ku, itu artinya aku mempunyai kesempatan untuk memiliki Ida meskipun hanya 45%.
“siapapun pria itu, dia pasti sangat beruntung karena telah berhasil memikat hati mu, dan kau harus melupakan kejadian buruk yang menimpa ibu mu... nasib mu berbeda dengan ibu mu, percayalah kejadian itu tidak akan menimpamu..”. aku meliaht seulas senyuman di bibirnya, senyuman bagai pelangi yang selalu mewarnai hari ku. “kau selalu berkata seperti itu, dan perkataan mu itu berhasil mematahkan pendapat ku tentang semua pria di dunia ini yang menurut ku tidak bertanggung jawab, karena setelah bertemu dan mengenal mu... terkadang aku berfikir kenapa kau harus baik dan berbeda dari kebanyakan pria yang ku kenal..”. aku tidak menyangka jika Ida berfikiran seperti itu terhadap ku, sungguh ini merupakan suatu keajaiban karena sebelumnya Ida tidak pernah memuji ku seperti itu kepadanya. “hahahhaa, terima kasih sudah memnganggap ku seperti itu, dan maaf jika selama ini aku selalu membuat mu marah karena kejahilan ku..”. dia kemudian menepuk pundak ku sambil tersenyum. “ dan terima kasih sudah membuat ku berubah..”. ucapnya kepada ku
“eem, ngomong-ngomong siapa pria yang beruntung itu ?.”. tanya ku kepadannya. Tapi dia hanya tertawa kemudian mengacak-ngacak rambut ku. “ dasar pria bodohhh, pria itu dirimu..”. aku kaget mendengar perkataanya, benarkah yang di maksudnya itu adalah aku ?, aku kah pria beruntung itu ?, Tuhan terima kasih. Dan kini kesempatan ku untuk menjadi kekasihnya adalah 100%,
“bebbeeenarrkah ?.”. ucap ku  bergetar dan gugup kepada Ida, dan dia tersenyum sambil mengangguk kepada ku, secara tidak sadar aku langsung memeluknya.
“aku berjanji Ida aku tidak akan pernah melakukan hal yang sama seperti ayah mu, aku akan mencintai, menyayangi, menjaga dan tidak akan pernah menyakiti mu..”. kuregup tubuhnya yang mungil itu, kemudian ku lepaskan dia. Ku tatap matanya dalam, dia tersenyum. Senyumnya itulah yang tidak bisa membuat ku jauh darinya. “aku tau itu.. dan aku tau semuanya Dino, semua tentang perasaan mu kepada ku..”. aku menatapnya bingung, bagaimana bisa dia tau tentang perasaan ku ? apakah Ida selama ini adalah peramal ? dan dia bisa membaca pikiran ku selama ini.
“dari mana kau tau ?.”tanya ku kepada ida, “hahahha, kau mempunyai sahabat yang ember seperti wanita..”. ucapnya, aku hanya bisa membulatkan mulut ku menjadi huruf O, sambil berfikir siapa yang membocorkan semua perasaan ku tentang Ida. “ohh ya’ampuunnn Aldiiiiiiii..”. aku menepuk jidat ku dengan keras hingga meninggalkan bekas, dan ku lihat Ida hanya tertawa melihat tingkah ku itu.
“sudahlah, yang penting kan kita sudah sama mengetahui perasaan masing-masing...”. aku menggaruk tengkuk ku yang sebenarnya tidak gatal, dan tersenyum kepada Ida. Dia hanya terkekeh, aku kemudian menggenggam tangannya lalu menatap tajam kedalam mata hazelnya yang hitam itu.
“maukah kau menjadi pacar ku ?.” tanya ku kepada Ida, setelah sekian lama aku menyimpan perasaan ini.
Ku lihat dia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
“tentu saja aku akan menajdi pacarmu..”.
Aku sangat senang mendengar apa yang di katakannya, rasanya seperti mendapatkan ribuan bintang jatuh di genggaman mu.Dan aku berjanji kepada Ida, aku tidak akan mengecewakannya.
The End~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar