Semilir angin menerbangkan rambut ku untuk yang kesekian
kalinya, sungguh nyaman jika berada disini di bawah pohon sebuah taman yang
terletak di belakang sekolah ku. Di tempat ini juga pertama kalinya aku bertemu
dengan seorang wanita yang sekarang menjadi sahabat ku, dia adalah Ida. Wanita
yang berhasil mencuri hati ku selama ini, tapi bodohnya aku hingga saat ini
tidak mampu untuk mengatakannya.
Nama ku Dino, dan sekarang aku sudah duduk di kelas XII SMA
negeri di Djakarta. Aku mempunyai mata hazel cokelat, rambut yang sedikit ikal
dan tinggi ku sekitar 170cm. Menurut semua teman-teman ku, aku cukup perfect.
Tapi, aku tetap merasa biasa saja. Banyak wanita yang mendekati ku, meskipun
begitu aku tidak tertarik dengan mereka semua karena aku hanya tertarik pada
satu wanita yaitu Ida.
“hei.. ngapain ? melamun aja... mau roti ?.” lamunan ku
langsung buyar seketika karena mendengar suara lembut seorang wanita yang
sangat ku kenal, suara seorang wanita yang mampu membuat jantung dan nafas ku
tercekat. “oo, hai Da... aku hanya duduk
bersantai saja disini..”. ucap ku kepadanya. “kau tidak ingin roti ?.” tanyanya
lagi sambil mengulurkan tangannya yang memegang roti itu kepada ku. aku hanya
tersenyum dan menggeleng kepadanya. “apa kau masih ingat waktu pertama kali
kita bertemu disini ?.” tanya ku kepadanya,dia hanya terkekeh saat mendengar
pertanyaan ku, mungkin dia mengingat kejadian itu, kejadian dimana saat kita
pertama kali bertemu.
“tentu saja ingat..”. ucapnya sambil memakan sedikit demi
sedikit yang ada di tangannya. “sekarang apa kau masih takut ?.”. tanya ku
kembali kepadanya, terlihat di sangat terkejut karena pertanyaan ku. dia
menantap ku tajam seakan tidak mengerti apa yang sedang aku tanyakan. “dulu,
saat waktu pertama kali kita bersekolah disini kau menangis di tempat ini, dan
aku tidak sengaja melihat mu menangis, saat ku tanyakan kenapa kau menangis kau
dengan polosnya menjawab kalau kau takut karena di tembak salah satu senior
terkeren di sekolah ini..”. jelas ku kepadanya sembari mengingat masa-masa
pertama bertemu dengannya. Dia kemudian mencubit ku manja sambil memanyunkan
bibirnya seakan tidak ingin aku mengungkit kejadian itu lagi, tapi aku hanya
tertawa dengan tingkah lucunya itu. “iyaaa, dan kau juga dengan polosnya
mentertawakan ku, karena aku ketakutan di tembak oleh senior itu, bukannya
menanyakan kenapa aku jadi takut, kau malah tertawa dan membuat ku semakin
ingin segera mengubur mu hidup-hidup.” Jelas Ida kepada ku yang membuat aku
semakin tertawa terbahak-bahak.
“hahahahaha, maafkan aku habisnya kau sangat lucu dan begitu
polos.. o’ya, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi ? apa kau masih takut untuk
menjalani hubungan dengan seorang pria ?.”. kulihat mata sayunya itu memandang
lurus kedepan desahan nafas teraturnya jelas terdengar di telinga ku, dia
kemudian menatap murung ke arah ku. “entahlah, kadang kala aku takut kejadian
yang sama akan menimpa ku seperti kejadian yang di alami ibu ku... di campakkan
oleh ayah ku, aku takut itu terjadi dan aku tidak mau itu terjadi..”. aku menyunggingkan
senyum paksaan kepadanya, sebenarnya aku cukup kecewa dengan jawaban Ida,
karena secara garis besar jika aku mengungkapkan perasaan ku kepadanya dia
pasti akan menolak ku. aku menundukan kepala ku, dan kini suasana hening
menyelimuti kami. “tapiii...”. suara Ida memecahkan keheningan. “tapi, disisi
lain aku juga ingin merasakan cinta.. emm, maksud ku aku sudah merasakannnya,
masalahnya adalah aku tidak tau cara menjalaninya aku takut dia akan
mencapakkan ku aku takut jika dia tidak mempunyai perasaan seperti yang ku
rasakan...”. kali ini senyuman besar terpampang diwajah ku, itu artinya aku
mempunyai kesempatan untuk memiliki Ida meskipun hanya 45%.
“siapapun pria itu, dia pasti sangat beruntung karena telah
berhasil memikat hati mu, dan kau harus melupakan kejadian buruk yang menimpa
ibu mu... nasib mu berbeda dengan ibu mu, percayalah kejadian itu tidak akan
menimpamu..”. aku meliaht seulas senyuman di bibirnya, senyuman bagai pelangi
yang selalu mewarnai hari ku. “kau selalu berkata seperti itu, dan perkataan mu
itu berhasil mematahkan pendapat ku tentang semua pria di dunia ini yang
menurut ku tidak bertanggung jawab, karena setelah bertemu dan mengenal mu...
terkadang aku berfikir kenapa kau harus baik dan berbeda dari kebanyakan pria
yang ku kenal..”. aku tidak menyangka jika Ida berfikiran seperti itu terhadap
ku, sungguh ini merupakan suatu keajaiban karena sebelumnya Ida tidak pernah
memuji ku seperti itu kepadanya. “hahahhaa, terima kasih sudah memnganggap ku
seperti itu, dan maaf jika selama ini aku selalu membuat mu marah karena
kejahilan ku..”. dia kemudian menepuk pundak ku sambil tersenyum. “ dan terima
kasih sudah membuat ku berubah..”. ucapnya kepada ku
“eem, ngomong-ngomong siapa pria yang beruntung itu ?.”.
tanya ku kepadannya. Tapi dia hanya tertawa kemudian mengacak-ngacak rambut ku.
“ dasar pria bodohhh, pria itu dirimu..”. aku kaget mendengar perkataanya,
benarkah yang di maksudnya itu adalah aku ?, aku kah pria beruntung itu ?,
Tuhan terima kasih. Dan kini kesempatan ku untuk menjadi kekasihnya adalah
100%,
“bebbeeenarrkah ?.”. ucap ku
bergetar dan gugup kepada Ida, dan dia tersenyum sambil mengangguk
kepada ku, secara tidak sadar aku langsung memeluknya.
“aku berjanji Ida aku tidak akan pernah melakukan hal yang
sama seperti ayah mu, aku akan mencintai, menyayangi, menjaga dan tidak akan
pernah menyakiti mu..”. kuregup tubuhnya yang mungil itu, kemudian ku lepaskan
dia. Ku tatap matanya dalam, dia tersenyum. Senyumnya itulah yang tidak bisa
membuat ku jauh darinya. “aku tau itu.. dan aku tau semuanya Dino, semua
tentang perasaan mu kepada ku..”. aku menatapnya bingung, bagaimana bisa dia
tau tentang perasaan ku ? apakah Ida selama ini adalah peramal ? dan dia bisa
membaca pikiran ku selama ini.
“dari mana kau tau ?.”tanya ku kepada ida, “hahahha, kau
mempunyai sahabat yang ember seperti wanita..”. ucapnya, aku hanya bisa
membulatkan mulut ku menjadi huruf O, sambil berfikir siapa yang membocorkan
semua perasaan ku tentang Ida. “ohh ya’ampuunnn Aldiiiiiiii..”. aku menepuk
jidat ku dengan keras hingga meninggalkan bekas, dan ku lihat Ida hanya tertawa
melihat tingkah ku itu.
“sudahlah, yang penting kan kita sudah sama mengetahui
perasaan masing-masing...”. aku menggaruk tengkuk ku yang sebenarnya tidak
gatal, dan tersenyum kepada Ida. Dia hanya terkekeh, aku kemudian menggenggam
tangannya lalu menatap tajam kedalam mata hazelnya yang hitam itu.
“maukah kau menjadi pacar ku ?.” tanya ku kepada Ida,
setelah sekian lama aku menyimpan perasaan ini.
Ku lihat dia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya
perlahan.
“tentu saja aku akan menajdi pacarmu..”.
Aku sangat senang mendengar apa yang di katakannya, rasanya
seperti mendapatkan ribuan bintang jatuh di genggaman mu.Dan aku berjanji
kepada Ida, aku tidak akan mengecewakannya.
The End~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar