With You.... Forever
Just Dreaming...
WITH YOU... FOREVER
Cast : Clarissa
Victoris Wilson, Austin James Bulter,
Bella Lylian Bulter, Mrs. Jessica Bulter
Author : Nor Aspia Achmad
Genre : Sad Romance
Hari ini dia terlambat lagi, entah sudah berapa kali dalam dua
bulan ini dia tidak pernah tepat waktu untuk menepati janjinya bertemu dengan
ku. Ini kedelapan belas kalinya aku melirik jam tangan yang ku pakai, sudah 2
jam aku menunggu didanau ini tapi dia tidak kunjung datang. Aku hanya bisa
menatap lurus kedepan, menatap danau yang ada dihadapan ku, danau yang begitu
tenang. Sesekali aku melemparkan batu ke danau itu, ‘lima belas menit lagi..’
lirih ku dalam hati. Ya, lima belas menit lagi jika dia tidak datang maka aku
akan pulang. Aku benci jika harus menunggu seperti ini, tapi aku tidak bisa
mengelaknya aku harus tetap disini untuk menunggu... menunggu seseorang yang ku
cintai datang dengan senyuman di bibirnya.
“Clarissa...” seseorang memanggil nama ku,dari suaranya dan dari caranya
memanggil aku tau siapa itu. Aku berbalik dan melihat kearahnya,dia kemudian
menghampiri ku dan dia kini berada dihadapan ku, aku hanya mendengus kesal
setelah memandang wajahnya.
“maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk terlambat, please Cissa..”. dia
menggenggam kedua tangan ku dan matanya menatap tajam kearah ku, inilah yang
selalu membuat ku tak bisa berkutik. Tatapan matanya yang damai mampu
meredamkan amarah ku kepadanya.
“berhenti menatapku, kau tau aku tidak akan bisa marah pada mu jika kau selalu
menatap ku seperti itu..”. kulihat dia hanya menunduk setelah mendengar ucapan
ku, aku melepaskan genggaman tangannya. Aku berjalan menuju sebuah kursi dan
kemudian duduk dikursi tersebut, dia pun mengikuti ku dan ikut duduk disamping
ku. Kami hanya diam, entah apa yang sedang dia fikirkannya. Tapi aku fikir dia
menyadari kesalahannya.
“kali ini apa alasan mu ? kau tau 2 jam 15 menit aku menunggu mu disini, dan
selalu seperti itu..selalu 2 jam 15 menit. Tidak bisakah kau tepat waktu Austin
?”. aku memecah keheningan dengan bertanya kepdanya. Aku menatap wajahnya yang
memandang lurus kedepan, tidak ada ekspresi dari wajahnya. Tapi, dia terlihat
pucat bahkan sangat pucat. Tidak biasanya dia seperti ini. Dia kemudian menatap
ku dan tersenyum. Aku kesal padanya, karena bukannya menjawab pertanyaan ku dia
malah tersenyum seperti itu, aku kemudian mendengus kesal dan bertanya lagi
kepadanya. “kenapa wajah mu pucat seperti itu ? apa kau sakit ? sampai kapan
kau seperti ini ? kita sudah enam bulan menjalin hubungan,tetapi kenapa kau
tidak pernah mau membagi cerita mu pada ku ? kenapa kau tidak pernah jujur
kepada ku ?”. kali ini nada bicara ku, ku naikkan satu oktav lebih tinggi,
karena aku sudah tidak bisa memendam perasaan kesal seperti ini. Bagaimana
tidak, sudah enam bulan kami menjalin hubungan tetapi dia tidak pernah mau
berterus terang tentang kehidupannya, dan aku sungguh merasa seperti kekasih
yang tidak dianggap olehnya.
“kau tau, ada sesuatu yang ingin ku katakan kepada mu..”. dia menarik nafasnya
secara perlahan, dan kali ini dia juga tidak menjawab pertanyaan ku. Untuk
itulah aku benci jika harus bertanya sesuatu tentangnya, karena dia terkadang
tidak akan menjawab pertanyaan dari ku.
“katakan..”ucap ku kepadanya.
“aku rasa hubungan kita cukup sampai disini, aku bukanlah lelaki baik yang bisa
membahagiakan mu. Aku hanya bisa membuat mu selalu kesal dan marah. Ku mohon
Cissa, lebih baik kita akhiri hubungan ini. Dan aku yakin kau akan mendapatkan
pengganti yang lebih baik dari ku..”. aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang
diucapkannya, rasanya aku ingin segera mengakhiri hidup ku saat ini juga.
Perkataannya bagaikan petir yang menyambar sebuah pohon hingga membuat pohon
itu retak menjadi dua.
Bagaimana bisa orang yang sangat kucintai berkata seperti itu kepada ku, dia
sungguh telah membuat luka dalam dihati ku. Kurasakan butiran bening membasahi
pipi ku, “katakan kau hanya bercanda..!! ini tidak lucu Austin... bagaimana
bisa kau berkata seperti itu ?”. ku lihat dia hanya menunduk, “tatap aku Austin
!! aku tau kau mencintai ku dan akan selamanya mencintai ku..!!”. sungguh aku
tidak bisa membendung rasa sakit yang ada dihati ku.
“aku tidak bercanda, aku serius. Maafkan aku Cissa, tetapi aku sudah tidak
mencintai mu lagi. Aku harap kau membenci ku dan segera melupakan ku, carilah
lelaki lain yang bisa membuat mu bahagia Cissa. Ini keputusan ku, maafkan aku
Cissa..”. kali ini dia menatap ku, aku melihat kedalam matanya dan aku
menemukan kebohongan yang sangat besar disana. Dia membohongi ku dengan
perkataanya dan aku tau itu.
“kau berbohong kepada ku, mata mu tidak bisa menyembunyikannya Austin !! kau
masih mencintai ku, kau bilang ingin selalu bersama ku dan kau bilang kau akan
menjaga ku.. kau.....”. belum sempat aku melanjutkan perkataan ku, Austin
berteriak sehingga aku tersentak dan butiran air ini semakin deras mengalir di
pipi ku.
“cukup Cissa !!!!. lupakan !! lupakan semua yang telah ku katakn pada mu dulu..
itu semua hanya kebohongan. Maaf Cissa, tapi kurasa kau harus menerimanya..”.
kini dia telah berdiri dan hendak beranjak pergi. Tuhan, apa dosa ku kepada mu
? sehingga kau ambil dan menjauhkan orang-orang yang ku cintai dari hidup ku ?.
Aku hanya bisa menangis melihatnya pergi meninggalkan ku. Ku tatap dia yang
kini pergi meninggalkan ku. Dia semakin menjauh, jauh, dan terus menjauh.
Aku pun bangkit, aku berlari mengejarnya aku tidak ingin dia pergi. Dia harus
tau bahwa aku sangat mencintainya. Dia tidak boleh pergi.
Ku lihat dia berjalan menuju mobil sport hitam miliknya, aku terus mengejarnya.
Sampai akhirnya aku menemukan sosok perempuan yang berdiri didepan mobilnya,
dia berbalik melihat ke arah aku yang mengejarnya. Aku tidak perduli dia
memandang ku seperti apa, tapi saat ini mata ku hanya fokus menatap sosok
wanita itu. Aku tidak bisa begerak saat ini, kurasakan tubuh ku membeku seketika.
Perlahan kutatap Austin yang sedari tadi memandangi ku dengan perasaan benci.
“siapa dia ?”tanya ku padanya. Kali ini suara ku bergetar, ku lihat wanita itu
menatap bingung ke arah kami.
“Bella, dia wanita yang mampu membuat ku berpaling dari wanita seperti mu. Aku
sangat mencintainya, bahkan begitu sangat menggilainya. Dan dia yang akan
menjadi ibu dari anak-anak ku kelak. Maafkan aku Cissa aku harus pergi..”. kali
ini kurasakan sesak didada ku, aku tidak bisa menghirup udara disekitarku. Aku
pun duduk terjatuh melihat perlahan mobil itu hilang pergi membawa cinta ku
yang telah membuat luka besar di dalam hati ini.
Tuhan ku mohon ambil nyawa ku saat ini juga, aku tidak sanggup jika harus
berpisah dengannya. Langit seketika runtuh menimpa tubuh ini saat dia pergi
meninggalkan ku Tuhan, aku sebatang kara di dunia ini, siapa lagi yang akan
perduli kepada ku jika dia pergi. Tuhan bantu aku...
**********
1 bulan kemudian..
Aku benar-benar merasa tidak berguna hidup di dunia ini, akhir-akhir ini aku
jarang makan. Tubuh ku yang kurus terlihat semakin kurus, rambut ku tidak
terurus, dan mata ku bengkak karena setiap hari menangis. Aku berjalan perlahan
menuju rumah, waktu masih menunjukan pukul 10.30am tapi aku terpaksa pulang
dari tempat kerjaku. Aku di pecat dari pekerjaan ku, karena mereka tidak ingin
mempunyai pekerja yang kacau seperti ku. Benar kata mereka, aku sangat kacau
dan ini semua karena Austin, aku terlalu bodoh hingga tidak bisa menerima
kenyataan dia meninggalkan ku dengan rasa sakit yang teramat dalam dan semua
janji yang penuh dengan kebohongan. Kubiarkan kaki melangkah menuju tempat yang
di inginkannya, sampai akhirnya kini aku berdiri di atas sebuah jembatan.
Kulihat air yang mengalir di bawah jembatan itu, mengalir tanpa beban berbeda
dengan ku. Ku naiki pembatas jembatan tersebut, tak ku hiraukan kendaraan lalu
lalang yang lewat. Akupun berteriak sekencang-kencangnya. “TUHAN !! APA INI
ADIL MENURUT MU ?? AKU LELAH TUHAN !! AKU LELAH DENGAN SEMUA JALAN MU, AKU
MENYERAH !! KINI BENTANGKAN JALAN MU AGAR AKU BISA MENYUSUL MU, MENEMUI KEDUA
ORANG TUA KU DAN DAMAI BERSAMA MEREKA..!!”. aku tidak perduli jika dianggap
sebagai orang gila. Aku memang gila sekarang, aku menangis sejadi-jadinya.
Sudah kuputuskan, aku akan menyusul kedua orang tua ku disurga, aku tersenyum
saat melihat bayangan wajah mereka di air, “mom..dad.. tunggu aku..”. lirih ku
pelan, kututup perlahan mata ku. Tapi saat aku hendak melompat, seseorang
menarik ku hingga aku terjatuh ke jalanan bukan ke air seperti yang ku
inginkan.
“Cissa !!.apa kau gila !!”. aku menatap wajah perempuan yang tadi menarik ku,
tapi sungguh kini kebencian ku memuncak ketika menatapnya. Wanita itu Bella,
wanita yang telah merebut Austin dari ku. Dia memeluk ku tapi aku mendorong
tubuhnya hingga terjatuh.
“aku memang gila, bahkan sangat gila. Untuk apa kau menarik ku ? kau hanya akan
membuat luka hati ku semakin besar !!. aku tidak butuh diselamatkan oleh mu,
pergi kau !!”. ku lihat dia menangis menatap ku,tetapi aku tidak perduli. Aku
tetap ingin mengakhiri hidup ku, dan kini aku menaiki pembatas jembatan itu
lagi. Saat aku hemdak melompat dia berteriak kepada ku..
“STOP CISSA !! hentikan, maafkan aku. Kau memang tidak butuh diselamatkan oleh
ku, tapi Austin dia membutuhkan mu untuk menyelamatkannya nyawanya. Aku bukan
wanita yang dicintainya, hanya kau... yaa, hanya kau Cissa..”. jantung ku
berhenti berdetak saat mendengar apa yang dia ucapkan, aku turun lalu
menghampirinya. “katakan kepada ku.. apa maksud semua ini ?”. kini ku lihat dia
lah yang sangat kacau, dia menangis. Dia menatap kearah ku.
“aku hanya teman sekaligus dokter yang merawat Austin, selama ini dia mengidap
penyakit leukimia Cissa, dan sekarang dia kritis sambil terus menyebut nama mu.
Dia tidak ingin memberitahu kepada mu karena dia tidak ingin melihat mu merasa
begitu terbebani kau sudah cukup menderita setelah kepergian orang tua mu dan
dia tidak ingin kau tambah menderita jika kau tau dia mengidap penyakit itu.
Hingga dia memutuskan untuk pergi meninggalkan mu dan membuat mu benci
kepadanya, berharap kau bisa melupakannya. Tapi dia tidak benar-benar
meninggalkan mu Cissa, dia selalu berada didekat mu dia selalu memantau mu dan
menjaga mu dari jauh,kau di awasi olehnya. Dia berharap kau akan menemukan
penggantinya, tapi nyatanya tidak kau malah semakin kacau, dia meresa sangat
bersalah kepada mu hingga akhirnya keadaanya pun semakin memburuk..”. aku
benar-benar merasa kosong saat ini, aku hanya bisa menangis, seluruh tubuh ku
lemas tidak berdaya. Inikah jawaban dai semua pertanyaan ku Tuhan ?. aku tidak
ingin kembali kehilangan orang yang kucintai, aku harus menemuinya.
“Bella.. maukah kau mengantar ku menemuinya ?”. Bella mengangguk, kemudian
membawa ku untuk pergi menemui Austin.
******
Kini aku berlari menelusuri koridor rumah sakit ini, tak ku perdulikan Bella
yang terlihat lelah mengikuti ku. Hingga akhirnya aku melihat wanita separuh
baya yang duduk didepan sebuah ruangan. Aku menghampirinya, dia terlihat sangat
terkejut dengan kedatangan ku, dia berdiri kemudian memeluk ku sambil terus
menangis.
“Cissa.. dia menunggumu.. dia sangat mencintai mu..”. wanita separuh baya itu
adlah Mrs.Jessica, ibu dari Austin. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan
membukakan pintu ruangan Austin.
Aku kemudian masuk sendiri, ku lihat Austin yang tersenyum melihat kedatangan
ku meskipun dengan puluhan selang yang menancap ditubuhnya. Aku hanya bisa
menangis menghampirinya, aku kemudian memeluk Austin dan duduk disampingnya.
Tangan kanannya terus menggenggam tangan ku, aku terus menangis memandangnya
tetapi dia terus tersenyum melihat ku. Tangan kirinya mengusap air mata yang
terus mengalir di pipi ku.
“hey, berhentilah menangis kau sangat jelek jika menangis... tersenyumlah, kau
curang... aku tersenyum saat melihat mu, tapi kau malah menangis melihat ku..”.
aku pun menuruti keinginannya, aku tersenyum kepadanya. Tapi sungguh saat ini
aku tidak mampu berkata apa-apa. Aku terus tersenyum kepadanya tapi, air mata
ini masih saja mengalir meskipun sudah ku tahan
untuk tidak keluar. Ku tatap mata hazelnya yang indah itu, ku dengar dia
mengeluarkan kata demi kata dari bibirnya yang pucat itu.
“maafkan aku Cissa,emm... kau tau ? sangat sulit jika seorang pasien ingin
keluar dari rumah sakit ini itulah sebabnya aku selau terlambat untuk menemui
mu, tapi untungnya ada dokter Bella yang selalu membantu ku hingga aku bisa
pergi menemuimu.. hmm, sekarang apa yang ingin kau tanyakan ? aku akan
menjawabnya Cissa”. aku benar-benar tidak tau harus berkata apa, kali ini aku
tidak dapat menahan air mata, aku menangis tetapi masih tersenyum. Tapi ku coba
untuk bicara saat ini, meskipun bibir ku berggetar untuk bicara.
“kau tidak perlu menjawab semuanya, aku sudah tau jawabannya. Tidak perduli
selama apa kau terlambat aku akan setia menunggu mu,tapi ku mohon kau harus
sembuh Austin. Dan behentilah meminta maaf, kau tidak pernah salah. Aku
berjanji akan selalu bersama mu, aku mencintai mu. Ku mohon jangan tinggalkan
aku, jika kau pergi siapa yang akan peduli kepada ku ? ku mohon Austin,
sembuhlah. Aku mencintai mu.”. aku memeluk tubuhnya yang terbaring lemah,
kuraskan tangannya mengusap rambut ku dengan lembut, lalu kemudian dia mencium
kening ku. Aku terus menangis dalam dekapannya.
“aku mencintai mu Cissa, bahkan sangat mencintai mu. I love you sweet heart..”.
dia mencium kening ku kembali, tapi kurasakan tangannya melemah saat memeluk
ku. Tuhan jangan kau ambil dia dari ku sekarang, aku mohon. Perlahan aku
melepaskan pelukan dan menatapnya. Kini dia terpejam untuk selamanya, aku hanya
bisa menagis kemudian mencium kening dan mengusap pipinya yang halus tanpa
nyawa tersebut. Kemudian berbisik ditelinganya.
“sweet dream honey, tidur yang nyenyak. Aku akan bersama mu, tunggu aku”. Aku
menatap pilu pada jasad orang yang kucintai, kemudian ku ambil sebuah gunting
yang ada didalam tas ku. Kusayatkan gunting tersebut pada tangan kiri ku, kini
cairan merah keluar dengan derasnya dari tangan ku. Ku hampiri tubuhnya yang
terbaring kaku, dan mengatakan sesuatu kepadanya sebelum semua terasa gelap.
“I Love You...”.
~END~
“Tidak ada semua cerita yang selau berakhir bahagia”
~Yaya~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar